METODOLOGI KRITIK MATAN HADIS


Dr. Salahudin ibn Ahmad al-Adlabi

Metodologi Kritik Matan Hadis
 


BAB I
PENDAHULUAN
Selain adanya kritik sanad, diperlukan pula adanya penelitian yang cermat terhadap isi-isi riwayat itu sendiri. Sebab kadang-kadang ada riwayat yang tidak bisa kita bayangkan berasal dari Nabi saw, sehingga para ulama menolaknya tanpa menghiraukan kualitas sanadnya. Bahkan ada riwayat yang ditolak meskipun sanadnya shahih. Inilah yang disebut kritik matan (kritik intern) .
Untuk menjelaskan obyek studi kritik matan ini dibutuhkan kajian yang luas dan dalam, khususnya untuk menjelaskan metode para ulama hadits dalam melakukan kritik matan (inter) dan penelitian komprehensif yang telah mereka lakukan.
al-Ustadz Ahmad Amin di dalam bukunya Fajr al-Islam dan Dluhai Islam. Beliau mengatakan bahwa para ulama telah membuat kaidah-kaidah Jarh dan ta’dil yang tidak pada tempatnya. Serta para ahli hadits sangat mengutamakan kritik ekstern dan tidak mengindahkan kritik intern.
Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa mereka juga tidak banyak memperhatikan faktor-faktor politik yang mendorong terjadinya pemalsuan hadits. Akibatnya mereka tidak merasa ragu sedikitpun terhadap beberapa hadits, meskipun isinya jelas memberikan dukungan politik terhadap Daulah Amawiyah, Abasiyah ataupun Alawiyah dan tidak melakukan studi komprehensi terhadap situasi sosial masa Nabi saw dan Khulafaurrasyidin.
Berkenaan dengan anggapan ini Ahmad Amin mengutip pendapat Ibn Khaldun bahwa para ahli sejarah, ahli tafsir dan ahli hadits banyak melakukan kesalahan dalam mengungkap berbagai kasus atau peristiwa dikarenakan landasan mereka hanyalah kritik ekstern tanpa meneliti labih jauh esensi kejadian itu.
Mahmud Abu Rayyah, seorang penulis kenamaan. Beliau memiliki pandangan bahwa para ulama hadits jarang menilai idltirab terhadap suatu hadits bila kerancuan terjadi pada matannya. Sebab hal itu memang bukan tugas mereka sebagai ahli hadits. Hal itu menjadi tugas para ahli ijtihad
Menurut hasil penelitian Al-Adlabi, tuduhan bahwa ulama mendahulukan kritik sanad ada benarnya—seperti ktitik dari kalangan Mu’tazilah dan bahkan memiliki rasonalitas sendiri
Ada beberapa urgensi dalam melakukan Studi Kritik Matan, yaitu; Pertama, menghindari sikap sembrono dan berlebihan dalam meriwayatkan suatu Ḥadith karena adanya ukuran-ukuran tertentu dalam metodologi kritik matan ini. Secara praktis, meneliti secara obyektif dan cermat terhadap matan Ḥadith serta mencocokkannya dengan kaidah-kaidah yang telah dikonsepsikan oleh spesialis Ḥadith merupakan hal yang mutlak diperlukan. Tanpa hal itu, dikhawatirkan kita dapat terjerumus ke dalam salah satu dari dua jurang yang sama-sama berbahaya, yaitu sikap sembrono (terlalu longgar dalam meriwayatkan Ḥadith) dan berlebihan (terlalu ketat dalam meriwayatkan Ḥadith).
Kedua, Menghadapi kemungkinan adanya kesalahan pada diri seorang periwayat. Ketiga, Menghadapi musuh-musuh Islam yang memalsukan Ḥadith dengan menggunakan sanad ṣaḥiḥ, namun matanya tidak ṣaḥiḥ. Keempat, Menghadapi kemungkinan adanya kontradiksi (ikhtilaf). Keempat alasan tersebut merupakan alasan penelitian terhadap persoalan yang rumit.
Menurut al-Adlabi dalam melakukan penelitian otentitas redaksi matan, terdapat kesulitan-kesulitan yang dialami yaitu;
1.      Minimnya pembicaraan mengenai kritik matan dan metodenya.
2.      Terpencar-pencarnya pembahasan mengenai kritik matan.
3.      Kekhawatiran terbuangnya sebuah hadits

Post a Comment

0 Comments