Dengarlah
sebuah hadits yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘Alaihi wa sallam: “Orang
yang paling dicintai oleh Alloh ‘Azza wa jalla adalah yang paling banyak
memberi manfaat kepada orang lain. Amalan yang paling dicintai oleh Alloh
adalah kesenangan yang diberikan kepada sesama muslim, menghilangkan
kesusahannya, membayarkan hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh,
aku berjalan bersama salah seorang saudaraku untuk menunaikan keperluannya
lebih aku sukai daripada beri’tikaf di masjid ini (Masjid Nabawi) sebulan
lamanya. Barangsiapa berjalan bersama salah seorang saudaranya dalam rangka
memenuhi kebutuhannya sampai selesai, maka Alloh akan meneguhkan tapak kakinya
pada hari ketika semua tapak kaki tergelincir. Sesungguhnya akhlak yang buruk
akan merusak amal sebagaimana cuka yang merusak madu.” (Diriwayatkan oleh Ibnu
Abid-Dunya dengan sanad hasan)
Betapa
mulianya akhlak seorang muslim. Ia senantiasa lebih mementingkan kebutuhan
saudaranya dibandingkan kebutuhan akan dirinya. Inilah akhlak yang sangat
luhur. Sudahkah kita berbuat seperti itu?
Saudaraku,
jika salah seorang saudaramu sesama muslim datang mengadukan kebutuhannya
kepadamu, maka bergembiralah karenanya dan sadarilah bahwa ia lebih
mengutamakanmu daripada yang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Tolonglah dia.
Jangan sampai engkau tidak membantunya dalam memenuhi kebutuhannya selagi
engkau mempunyai kemampuan untuk itu.
Lihatlah,
bagaimana orang-orang sholih terdahulu senantiasa memperhatikan kepentingan
saudaranya,
Hakim
bi Hizam berkata, “Jika aku memasuki waktu pagi dan di pintu depan rumahku
tidak ada seorangpun membutuhkan sesuatu dariku, maka aku menyadari bahwasanya
hal itu merupakan musibah yang aku meminta pahala kepada Alloh.”
“Ketika
seekor kuda milik Ar-Rabi’ bin Khutsaim yang harganya dua puluh ribu dicuri,
maka orang-orang bertanya kepadanya, “Doakanlah si pencuri itu!”. Ar-Rabi’
berdoa, “Ya Alloh, jika si pencuri itu orang yang kaya, maka ampunilah dia.
Tetapi jika ia seorang miskin, maka jadikanlah dia kaya.” (Shifatush-Shafwah:
3/61)
Saudaraku
yang mulia, dimanakah posisi kita dibandingkan mereka?
Saudaraku
yang tercinta, maukah engkau berhenti sebentar bersamaku dan kita renungkan
bersama sikap wara’ Salman Al Farisi. Al Hasan berkisah, “Gaji untuk Salman Al
Farisi lima ribu. Dia menjadi gubernur bagi tiga puluh ribu rakyat muslimin.
Jika gajinya diberikan, dia langsung menghabiskannya untuk bersedekah,
sementara dia sendiri makan dari hasil anyaman tangannya sendiri.”
Qasim
Al ju’i bercerita di tengah halaqah murid-muridnya, “Manfaatkanlah waktu kalian
agar jangan sampai terjatuh dalam lima perkara ini, yaitu: jika kalian datang,
kalian tidak dianggap, jika kalian tidak datang, kalian tidak dicari, jika
kalian bersaksi, kalian tidak diajak bermusyawarah, jika kalian mengatakan
sesuatu, perkataan kalian tidak diterima, dan jika kalian mengetahui sesuatu,
kalian tidak diberi kesempatan untuk mengutarakannya.”
Aku juga mewasiatkan
pada kalian lima perkara: jika kalian didzalimi, maka janganlah kalian membalas
berbuat dzalim, jika kalian dipuji, janganlah berbangga diri, jika kalian
dicela, janganlah kalian merasa terhina, jika kalian dipancing untuk marah,
jangalah kalian marah, dan jika mereka mengkhianati kalian, janganlah kalian
balas mengkhianati mereka.” (Shifatush-Shafwah: 4/237)
Dari
muslimah.or.id dan berbagai sumber lainnya

0 Comments