Teladan
dari Maryam
Maryam adalah seorang wanita salehah yang
menjaga diri dan kehormatan. Dialah pemuka kaum wanita di surga. Dari Aisyah radhiyallahu
‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
سَيِّدَاتُ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَرْبَعٌ: مَرْيَمُ بِنْتُ
عِمْرَانَ، وَفَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَآسِيَةُ
“Pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam
binti Imran, Fatimah binti Rasulullah ﷺ, Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah.” (HR. Hakim).
Dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Wanita-wanita
yang paling utama sebagai penduduk surga adalah Khadijah binti Khuwailid,
Fathimah binti Muhammad, Asiyah binti Muzahim (istri Fir’aun) dan Maryam binti
‘Imran.” (HR. Ahmad)
Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُ نِسَائِهَا مَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ ، وَخَيْرُ نِسَائِهَا
خَدِيجَةُ
“Wanita terbaik yang pernah ada ialah Maryam
putri Imran dan Khadijah.” (HR. Bukhari, no. 3432 dan Muslim, no. 2430).
Makna yang paling nampak antara Maryam dan
Khadijah adalah wanita terbaik di masanya masing-masing. Demikianlah disebutkan
oleh Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, 15:176.
Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Lelaki
yang sempurna jumlahnya banyak. Dan tidak ada wanita yang sempurna selain
Maryam binti Imran dan Asiyah istri Firaun. Dan keutamaan Aisyah dibandingkan
wanita lainnya, sebagaimana keutamaan ats-Tsarid dibandingkan makanan lainnya.”
(HR. Bukhari, no. 5418 dan Muslim, no. 2431)
Mengenal
keluarga Imran
Keluarga Imran adalah keluarga mulia dalam kurun
sejarah. Allah memilih mereka dibanding keluarga lainnya adalah tanda nyata
keagungan mereka. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ اللّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ
عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِن بَعْضٍ وَاللّهُ سَمِيعٌ
عَلِيمٌ
“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh,
keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka
masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (turunan) dari yang
lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Ali Imran:
33-34)
Keluarga Imran dinisbatkan kepada seseorang yang
bernama Imran bin Matsan bin Al-Azar bin Al-Yud… bin Sulaiman bin Daud ‘alaihis
salam. Nasabnya tersambung hingga ke Nabi Daud ‘alaihis salam. Dalam bahasa
Ibrani, Imran disebut dengan Imram. Dalam buku-buku Nasrani namanya disebut
dengan Yuhaqim.
Keluarga Imran adalah turunan (cabang) terakhir
orang-orang beriman dari turunan Bani Israil. Namun antara mereka dengan Nabi
Ya’qub terpisah beberapa kurun lamanya.
Anggota
keluarga Imran
Istri Imran bernama Hannah binti Faquda. Ada
juga yang menyebut Qa’uda bin Qubaila. Hannah adalah seorang wanita yang tekun
beribadah. Sebagaimana kisahnya dalam Alquran,
“(Ingatlah),
ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Rabbku, sesungguhnya aku menazarkan kepada
Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di
Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya
Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Ali Imran: 35)
Anak-anak
Imran
Pertama: Asy-ya’
Asy-ya’ adalah putri sulung Imran. Ia dinikahi
oleh Nabi Zakariya ‘alaihis salam. Dan merupakan ibu dari Nabi Yahya ‘alaihis
salam. Ada juga mengatakan ia adalah bibinya Maryam, bukan saudara
perempuannya.
Kedua: Maryam
Maryam adalah wanita ahli ibadah dan suci. Ia
merupakan ibu dari kalimat Allah, Nabi Isa ‘alaihis salam. Putri Imran yang
satu ini adalah wanita terbaik dan tersempurna.
Sifat
Maryam dalam Surah At-Tahrim
Dalam ayat terakhir dari surah At-Tahrim
disebutkan,
“Dan
(ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan
ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat
Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.”
(QS. At-Tahrim: 12)
Ia adalah wanita terhormat yang menjaga dirinya
dari zina karena kesempurnaan agama dan penjagaan dirinya (‘iffah). Karenanya Allah katakan, “maka Kami tiupkan ke dalam
rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami.”
Maryam disifati dengan “dan dia membenarkan
kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya”, menunjukkan Maryam memiliki ilmu dan
makrifah. Karena membenarkan kalimat Rabb-Nya menunjukkan Maryam membenarkan
semua ajaran diin dan membenarkan setiap takdir Allah. Sedangkan membenarkan
kitab-kitab-Nya berarti ia mengenal kitab-Nya. Ini semua didapati dengan
berilmu dan beramal.
Oleh karena itu Maryam disebut “termasuk
orang-orang yang taat” yaitu al-qaanitin. Maksudnya adalah Maryam
itu taat kepada Allah, terus menerus dalam ketaatan dengan penuh rasa takut dan
kekhusyuan. Maka kesimpulannya Maryam itu adalah Shiddiqiyyah yaitu wanita yang
sempurna dalam ilmu dan amal.
Maryam dikatakan termasuk qaanitiin, menurut
Syaikh Musthafa Al-‘Adawi dalam At-Tashil li Ta’wil At-Tanzil Juz’u Qad
Sami’a (hlm. 383), yang dimaksud adalah Maryam termasuk dari kaum yang
qaanitin (yang taat). Ayat ini untuk menyanggah perkataan kaumnya yang
menyatakan,
“Hai
saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan
ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina.” (QS. Maryam: 28).
Kisah
Maryam menjaga diri dari laki-laki
Berikut keterangan Ibnu Katsir dalam Tafsir
Al-Qur’an Al-‘Azhim (juz kelima).
Ketika Allah telah menceritakan kisah Zakariya ‘alaihis
salam, bahwa di saat kondiri masa tuanya dan kemandulan istrinya, dia diberi oleh
Allah seorang anak yang pandai, suci, dan berkah. Lalu Allah menyambung
firman-Nya dengan kisah Maryam yang diberikan seorang putra, yaitu ‘Isa tanpa
ayah. Karena di antara kedua kisah tersebut memiliki kesesuaian dan kesamaan.
Untuk itu, cerita keduanya diseiringkan (dalam surah Ali ‘Imran, surah Maryam,
dan surah Al-Anbiyaa’) karena kedekatan antara keduanya dalam pengertian, agar
menunjukkan kepada hamba-hamba-Nya tentang kekuasaan dan keagungan kerajaan-Nya
serta Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
Dalam ayat disebutkan,
“Dan
ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Quran, yaitu ketika ia menjauhkan diri
dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur.” (QS. Maryam: 16).
Yang dimaksud di sini adalah Maryam binti
‘Imran, dari keturunan Daud ‘alaihis salam. Beliau berada di antara keluarga
suci dan baik pada kaum Bani Israil.
Sesungguhnya Allah menyebutkan kisah kelahiran
Maryam dari ibunya di surah Ali ‘Imran. Sang ibu menadzarkannya sebagai muharrarah,
yaitu orang yang berkhidmat di Masjid Baitul Maqdis. Di mana dahulu mereka
mendekatkan diri kepada Allah dengan cara demikian. Dalam ayat disebutkan,
“Maka
Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik.” (QS. Ali
Imran: 37)
Maryam tumbuh di kalangan Bani Israil dengan
terhormat. Maryam adalah salah seorang wanita ahli ibadah, yang tekun ibadah
lagi terkenal dan beliau adalah seorang gadis muda yang tidak bersuami. Beliau
berada di dalam pemeliharaan suami saudaranya yaitu Zakariya, salah seorang
Nabi dari Bani Israil serta pembesar yang dijadikan tempat bertanya dalam
masalah agama. Zakariya melihat bahwa Maryam memiliki karamah yang melimpah.
Dalam surah Ali ‘Imran disebutkan,
“Dan
mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya
pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati
makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh
(makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya
Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” (QS.
Ali Imran: 37)
Diceritakan bahwa Zakariya mendapati di sisi
Maryam buah-buahan musim dingin di saat musim panas, dan menemukan buah-buahan
musim panas di saat musim dingin. Sebagaimana telah dijelaskan di dalam surah
Ali ‘Imran. Allah yang memiliki hikmah dan dalil yang nyata menciptakan hamba
dan Rasul-Nya, Isa, salah seorang Rasul agung, ‘Ulul ‘Azmi yang lima. Dalam
ayat ini Allah menerangkan,
“Yaitu
ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur.”
(QS. Maryam: 16).
Yaitu Maryam mengasingkan dan menjauhkan diri
dari mereka serta pergi ke arah timur masjid Baitul Maqdis. Mereka orang-orang
Nasrani menjadikan tempat lahirnya Isa sebagai kiblat.
Lalu disebutkan,
“Maka
ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh
Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang
sempurna.” (QS. Maryam: 17).
Yaitu Maryam menutup diri dari mereka, lalu
Allah mengutus Jibril kepada Maryam, datang dalam bentuk manusia sempurna.
Lalu apa yang dilakukan oleh Maryam? Lihat
lanjutan ayat,
“Maryam
berkata: ‘Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Rabb Yang Maha
pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa’.” (QS. Maryam: 18).
Maryam cuma mengira kalau nantinya malaikat
tersebut mengganggu dirinya.
Ketika membaca kisah Maryam ini, Abu Wail
berkata,
“Maryam
itu tahu bahwa orang bertakwa itu mengerti ada batasan.” (Tafsir Al-Qur’an
Al-‘Azhim, 5:215-216)
Jibril pun menjawab bahwa ia bukanlah lelaki
seperti yang Maryam duga. Jibril mengatakan bahwa ia adalah utusan Allah
sebagaimana dalam ayat,
“Ia
(jibril) berkata: ‘Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Rabbmu, untuk
memberimu seorang anak laki-laki yang suci’.” (QS. Maryam: 19)
Jawaban Maryam,
“Maryam
berkata: ‘Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah
seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!’” (QS.
Maryam: 20).
Al-baghyu dalam ayat maksudnya adalah pezina. Oleh karena
itu dalam hadits disebutkan larangan untuk mahar al-baghyu (upah pelacur).
Lalu ayat selanjutnya menyebutkan,
“Jibril
berkata: ‘Demikianlah’. Rabbmu berfirman: ‘Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan
agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari
Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.’” (QS.
Maryam: 21)
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,
“Allah Ta’ala menciptakan nenek moyang mereka, yaitu Adam tanpa ayah dan ibu.
Allah menciptakan Hawa dari laki-laki tanpa wanita. Lalu Allah menciptakan
seluruh keturunannya dari laki-laki dan wanita, kecuali ‘Isa ‘alaihis salam
yang diciptakan dari wanita tanpa laki-laki. Dengan demikian, lengkaplah empat
cara adanya keturunan yang menunjukkan kesempurnaan kuasa Allah dan keagungan
kewenangan Allah. Tidak ada ilah (yang berhak diibadahi) selain Allah dan tidak
ada Rabb selain-Nya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5:216)
Keadaan
Maryam ketika melahirkan Isa
Menurut pendapat yang masyhur dari jumhur
(mayoritas) ulama, Maryam itu hamil sembilan bulan seperti umumnya wanita.
Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 217.
Tentang kehamilan Maryam disebutkan dalam ayat,
“Maka
Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke
tempat yang jauh.” (QS. Maryam: 22).
Jibril meniupkan ruh di lengan bajunya, yang
kemudian ruh itu turun hingga mengalir ke farji, sehingga ia mengandung anak
dengan izin Allah Ta’ala. Ketika ia hamil, ia merasa kesulitan, tidak
tahu apa yang harus dikatakan pada orang-orang. Karena orang-orang pasti tidak
akan percaya ceritanya padahal ia bercerita dengan jujur. Maryam lalu ingin
menceritakan perihal dirinya pada saudara perempuannya (istri Nabi Zakariya).
Ketika bertemu saudaranya, ia pun hamil. Kemudian saudaranya melihat bahwa bayi
dalam perutnya menghormati dan tunduk pada bayi yang ada dalam perut Maryam. Di
mana syariat sebelum Islam untuk menghormati disyariatkan untuk sujud ketika
mengucapkan salam. Namun dalam syariat kita hal seperti ini sudah terlarang,
hanya boleh dilakukan pada Allah Ta’ala untuk mengagungkan Allah.
Yang dialami Maryam
selanjutnya,
“Maka
rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon
kurma, dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku
menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan“.” (QS. Maryam: 23).
Tempat lahirnya Isa ini adalah di Bait lahm
(Betlehem). Banyak yang mengakui demikian, termasuk pula orang-orang
Nashrani.
Maryam
puasa bicara
Jibril kemudian memanggil Maryam dari tempat
yang rendah sebagaimana disebutkan dalam ayat,
“Maka
Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati,
sesungguhnya Rabbmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.” (QS. Maryam:
24).
Kemudian Maryam disuruh untuk meraih pangkal kurma
ke arahnya. Mujahid berkata bahwa pohon tersebut adalah kurma ‘Ajwah. Dalam
ayat disebutkan,
“Dan
goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan
buah kurma yang masak kepadamu.” (QS. Maryam: 25)
“Maka makan, minum dan bersenang hatilah
kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: ‘Sesungguhnya aku
telah bernazar berpuasa untuk Rabb Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan
berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini’.” (QS. Maryam: 26).
Shaum (puasa) yang dimaksudkan Maryam—menurut Anas bin Malik—adalah diam.
Karena dahulu dalam syariat mereka, namanya shaum (puasa) adalah tidak makan
dan tidak berbicara.
Komentar
kaumnya yang melihat Maryam dengan putranya
Kaumnya komentar saat melihat Maryam dengan
putranya Isa,
“Maka
Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata:
“Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.”
(QS. Maryam: 27)
Lalu disebutkan,
“Hai
saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan
ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina.” (QS. Maryam: 28).
Yang dimaksud “wahai saudara perempuan Harun”
adalah Harun saudara Musa. Karena Maryam berasal dari keturunan Harun. Ada juga
pendapat lain yang mengatakan Harun di sini adalah laki-laki saleh karena sifat
Maryam sama dengannya yaitu zuhud dan rajin ibadah.
Sedangkan Syaikh As-Sa’di dalam Tafsir
As-Sa’di (hlm. 517) menyatakan bahwa saudara Maryam ada yang bernama Harun,
dan orang-orang dulu sudah terbiasa memakai nama para nabi. Dan tidak mungkin
yang dimaksud adalah Harun saudaranya Musa karena antara mereka melewati kurun
waktu yang panjang.
Maryam ketika dituduh telah berzina karena ia
sedang puasa dari berbicara, maka ia cukup berisyarat pada putranya Isa. Dalam
ayat disebutkan,
“maka
Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: “Bagaimana kami akan berbicara
dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?” (QS. Maryam: 29)
Putranya Isa pun menjawab,
“Berkata
Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia
menjadikan aku seorang nabi.” (QS. Maryam: 30)
“dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati
di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan
(menunaikan) zakat selama aku hidup.” (QS. Maryam: 31)
“dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak
menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” (QS. Maryam: 32)
“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan
kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku
dibangkitkan hidup kembali.” (QS. Maryam: 33)
Adapun maksud ayat “dan Dia menjadikan aku
seorang yang diberkati di mana saja aku berada” adalah Isa melakukan amar
makruf nahi mungkar di mana saja ia berada.
Sebagian salaf berkata,
“Tidaklah
engkau dapati seseorang durhaka pada kedua orang tuanya melainkan engkau dapati
ia adalah orang sombong lagi celaka. Kemudian ia membacakan firman Allah, ‘dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak
menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka’.” (Tafsir Al-Qur’an
Al-‘Azhim, 5:226)
Qatadah berkata, telah diceritakan kepada kami
bahwa seorang wanita pernah melihat Isa bin Maryam mampu menghidupkan orang
yang mati serta menyembuhkan orang yang buta dan berpenyakit kusta sebagai
tanda-tanda yang diberikan dan diizinkan oleh Allah. Wanita itu berkata,
“Beruntunglah perut yang mengandungmu dan tetek yang menyusuimu.” Lalu ‘Isa menjawab,
“Beruntunglah bagi orang yang membaca kitab Allah lalu mengikuti isinya dan
tidak menjadi orang yang sombong lagi celaka.” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani,
perawinya tsiqqah namun haditsnya mursal. Hadits ini bisa diyakinkan berasal
dari hadits marfu’. Lihat catatan kaki dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim,
5:226)
Jawaban Nabi Isa, “Dan kesejahteraan semoga
dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan
pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”, menunjukkan ikrar Isa bahwa ia
adalah hamba Allah, ia dihidupkan, ia dimatikan, ia dibangkitkan seperti
makhluk lainnya. Akan tetapi, Nabi Isa memperoleh keselamatan di saat kondisi
mencekam menyelimuti hamba-hamba lainnya. (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim,
5:226)
Dari berbagai sumber

0 Comments