TAPAK TILAS REVOLUSIONER AGUNG

Rangkuman BAB XIV Buku:

TAPAK TILAS REVOLUSIONER AGUNG
Kajian Sirah Nabawiyah dalam Bingkai Harakah
Periode Makkah
Mushthafa al-Mudzakkir

EMBARGO EKONOMI-SOSIAL: SURVIVAL AQIDAH DAN FISIK



Terobosan Rasulullah SAW dalam menjalankan roda revolusi Islam menjadikan elit Makkah merasa terpojokkan. Iklim sosial-politik Makkah menjadi semakin tidak stabil, hal ini dikarenakan sebagian kaum muslimin yang hijrah ke Ethiopia berasal dari keluarga elit Makkah.

Keadaan ini juga diperparah dengan masuk Islamnya Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar bin Khattab pada akhir bulan ke-6 kenabian yang menyebabkan Islam menyebar di kalangan Quraisy. Serta gagalnya upaya diplomasi antara elit Makkah dengan Rasulullah yang menyebabkan meluapnya emosi elit Makkah



Kondisi ini mendorong mereka untuk bersidang di Dar al-Nadwah dalam rangka menentukan strategi untuk menghadapi keadaan yang sudah sulit dikontrol oleh mereka selaku pejabat Makkah. Dan atas nama stabilitas Makkah pada akhirnya para elit mengambil keputusan untuk membunuh Rasulullah SAW dengan cara terang-terangan dan secara bersama-sama. Mereka berasumsi jika Rasulullah dibunuh maka secara otomatis gerakan Islam akan berakhir dengan sendirinya dan dengan demikian stabilitas sosial-politik akan tercipta kembali.

Menanggapi isi keputusan rapat di Dar al-Nadwah, Abu Thalib berinisiatif untuk mengumpulkan dua keluarga besar dari bani Hasyim dan dari bani al-Muthalib untuk dimintai pendapatnya. Selain Abu Lahab, semua keluarga besar dari kedua bani baik yang sudah berislam ataupun belum berislam sepakat bahwa Muhammad Rasulullah SAW haruslah dijaga keselamatannya. Dengan demikian gagallah rencana pemimpin Makkah untuk membunuh Rasulullah SAW karena terbentur perlindungan dari kedua keluarga besar beliau.

Kegagalan ini membuat para pemimpin Makkah melakukan rapat kembali dengan hasil keputusan akan teteap membunuh Rasulullah SAW bagaimanapun caranya. Untuk melancarkan realisasi keputusan itu mereka sepakat mengadakan pemboikotan kepada bani Hasyim dan bani al-Muthalib sebagai bentuk kekecewaan terhadap keluarga besar itu yang berlangsung selama dua atau tiga tahun. Embargo ekonomi-sosial mulai diberlakukan elit Makkah pada bulan Muharram tahun ke-7 kerasulan.






Klausul Embargo
Atas nama keutuhan keturunan Quraisy, para elit Makkah melakukan tekanan kepada para sekutu untuk menyepakati konsensus yang telah dirancang oleh ambisi segelintir elit Makkah terutama Abu Jahal.
Menurut riwayat Bukhari, elit Makkah berkumpul di Khaif bani Kinanah sekitar distrik al-Mahshib. Mereka menyusun nota perjanjian dengan berisikan beberapa pasal. Pasal-pasal tersebut memuat larangan melakukan hubungan sosial kemasyarakatan, mengadakan perkawinan dan melakukan transaksi ekonomi keuangan dengan bani Hasyim dan bani al-Muthalib. Undang-undang ini berlaku selama kedua bani tersebut tidak menyerahkan Rasulullah SAW kepada elit Makkah untuk dibunuh.
Undang-undang pemboikotan dituangkan dalam bentuk shahifah dan setelah itu demi keamanan mereka menyegel dan menggantungkannya di Ka’bah. Tidak kurang dari 40 elit Makkah ikut serta dalam pengukuhan konsensus embargo meskipun sebagian melakukannya secara terpaksa.

Nestapa Para Pembela Rasulullah SAW
Diberlakukannya embargo membuat bani Hasyim dan bani al-Muthalib mengungsi ke lembah di mana pemukiman Abu Thalib berada. Meskipun dalam klausul embargo tidak ada pasal yang mengharuskan kedua bani untuk mengungsi ke suatu tempat tertentu. Tetapi mengingat tujuan sebenarnya dari para elit Makkah untuk membunuh Rasulullah SAW maka sesuai perhitungan politik Abu Thalib, seluruh para pembela Rasulullah harus bersatu dalam satu komunitas. Hal ini berfungsi sebagai benteng hidup bagi Rasulullah.
Lembah Abu Thalib secara geografis terletak di pinggiran kota Makkah, memiliki satu pintu masuk karena di sisi-sisi lain dikelilingi pagar alam berupa perbukitan. Hal ini memberikan keuntungan dalam hal keamanan bagi kedua bani tapi tidak dalam hal distribusi logistik. Bagi pimpinan Makkah sendiri ini juga memberikan keuntungan dalam pengawasan penghuni lembah Abu Thalib.
Pemenuhan kebutuhan pokok bagi para pembela Rasulullah SAW sangat terganggu dengan embargo ekonomi yang mereka alami. Karena seluruh akses pasar disabotase oleh para konglomerat Makkah. Semua barang kebutuhan pokok diborong oleh konglomerat Makkah terutama Abu Lahab.
Pemboikotan atau embargo ekonomi-sosial memakan rentang waktu relatif lama yaitu sekitar 3 tahun.sehingga mengakibatkan perbekalan logistik yang dimiliki oleh kedua bani dari hari ke hari terus menipis dan jelas-jelas tidak mampu memcukupi kebutuhan penghuni lembah tersebut. Banyak riwayat menceritakan bagaimana penghuni lembah melakukan survival demi kelangsungan hidupnya. Ada yang memakan akar-akaran, rumput-rumputan, daun-daunan, kulit kering dan apapun yang bisa dimakan. Tetapi keadaan seperti ini tidak mengubah keputusan awal untuk tetap melindungi Rasulullah SAW.
Dengan krisis pangan sedemikian parah, Rasulullah dan Khadijah serta Abu Thalib tanpa ragu menghabiskan kekayaannya demi mengurangi rintihan rasa lapar dan haus penghuni lembah. Bahkan diceritakan demi sekantong air, Ali harus membayar dengan sekeping emas.
Selain dari Rasulullah, Khadijah dan Abu Thalib, kebutuhan supply logistik juga didapatkan dari para simpatisan yang mengirim logistik dengan sukarela. Meskipun tidak jarang mereka mendapatkan caci maki bahkan penyiksaan fisik dari para pimpinan Makkah. Simpatisan itu diantaranya Umar al-Amiri, Hisyam bin Amr Rabi’ah begitu juga keponakan Khadijah Hakim bin Hizam.
Selain dari para simpatisan, bantuan juga datang dari kaum muslim yang berasal dari kabilah lain khususnya Abu Bakar dan Umar. Mereka mengupayakan untuk melanggar pemboikotan. Bahkan setelah pemboikotan berjalan selama dua tahun Abu Bakar sudah tidak bisa dikatakan orang kaya lagi.
Abu Thalib faham betul kelicikan para elit Makkah, dari itu untuk mencegah kemungkinan terjadi pembunuhan terhadap diri Rasulullah, Abu Thalib mengatur strategi secara rapih. Ia senantiasa menjadwal para penghuni lembah untuk senantiasa mengiringi Rasulullah kemanapun beliau berada. Ketika malam tiba, setelah memastikan seluruh penghuni lembah terlelap tidur, Abu Thalib membangunkan Rasulullah guna beralih tempat dengan salah satu keluarga bani Hasyim yang telah ditunjuk oleh Abu Thalib secara rahasia. Hal ini berlangsung setiap malam dengan orang dan tempat tidur yang berbeda-beda.

Pertolongan Allah
Setelah 3 tahun berlangsung, keteguhan penghuni lembah pada gilirannya mendapatkan pertolongan Allah. Allah menggerakkan hati beberapa pemuka Makkah untuk mengakhiri pemboikotan. Mereka adalah Hisyam bin Amr, Zuhair bin Abu Umayyah al-Makhzumi, al-Muth’im bin Adi, Abu al-Bakhtari bin Hasyim dan Zam’ah bin al-Aswad. Kelompok ini berencana mengajukan uji materi tentang keabsahan undang-undang embargo yang melanggar batas hak asasi manusia. Setelah berthawaf, Zuhair berorasi secara lantang. Abu Jahal yang sedang berada di sisi Ka’bah mengingatkan Zuhair bahwa tidak bisa menggugat undang-undang ini karena merupakan konsensus dari semua petinggi Makkah.
Bertepatan dengan kejadian itu, Abu Thalib mendatangi rapat pimpinan Makkah untuk melakukan langkah diplomatic. Abu Thalib mengajukan negosiasi kepada elit Makkah dengan mengatakan bahwa Rasulullah memberitahukan kepada dia perihal lembaran undang-undang embargo telah rusak dimakan rayap kecuali kalimat bismika Allahumma. Jika informasi ini salah maka Abu Thalib akan mencabut perlindungan atas diri Rasulullah tetapi sebaliknya jika informasi ini benar maka pimpinan Makkah harus membatalkan undang-undang embargo dan membebaskan Rasulullah berikut pengikut dan keluarganya. Negosiasi ini disetujui oleh elit Makkah. Ternyata setelah dilihat lembaran undang-undang itu dalam keadaan sesuai dengan mimpi Rasulullah. Dengan demikian berakhirlah embargo tersebut.
Ada versi lain yang meriwayatkan bahwa kalimat Allah lah yang termakan rayap sebagai tanda bahwa Allah tidak bisa bercampur atau dicampur dengan kedzaliman.
Berkaitan dengan sebab pemboikotan berakhir, ada riwayat lain dari al-Bukhari bahwa Rasulullah berdoa kepada Allah agar kaum musyrik Makkah mengalami paceklik dan memang demikianlah jadinya, langitpun dipenuhi oleh asap yang menyesakkan dada. Pada saat itulah Abu Subyan memohon kepada Rasulullah agar berdoa kiranya Allah melepaskan mereka dari bencana itu.
 
Bersama Kesulitan Ada Kemudahan
Dengan kondisi yang terjadi ini seolah Allah sedang memberikan pembelajaran kepada Rasulullah tentang pentingnya eksistensi jama’ah. Dalam pelaksanaan risalah tauhidullah tidak bisa terlepas dari stabilitras sosial-politik. Akan sulit kiranya risalah tauhidullah direalisasikan jika tidak memiliki otoritas mutlak. Sebagaimana ketika Rasulullah beserta pendukungnya belum memiliki anasir kedaulatan.
Untuk menguatkan mental dan membuka cakrawala, pada saat embargo Allah menurunkan wahyu-wahyu berkenaan dengan perjuangan para rasul sebelum Rasulullah. Seperti wahyu dalam Q.S. al-Syura ayat 13
شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ ۖ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ ۚ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ ۚ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ
“Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).”
Jika melihat secara keseluruhan isi surat al-Syura, maka akan tertangkap tema besarnya adalah tentang eksistensi wahyu. Dalam al-Syura Allah menegaskan kepada Rasulullah SAW bahwa Allah Maha Perkasa dan Maha Bijaksana yang telah menurunkan wahyu bukan hanya kepada beliau tetapi juga kepada para nabi sebelumnya.
Oleh karena itu Rasulullah harus meyakini segala sunatullah yang telah ditetapkan. Dalam konteks sunatullah pasti akan ada penentangan. Dalam kehidupan segala sesuatu diciptakan berpasang-pasangan termasuk pula antara hak dan batil. Resiko pemblokiran ekonomi-sosial bukanlah akhir dari segalanya.
Apa yang beliau rasakan sebenarnya hal tersebut pernah dialami pula oleh para rasul ulul al-azmi. Dalam menempuh episode ini diperlukan kesatuan pandangan baik secara historis dengan para rasul terdahulu maupun dengan pendukung beliau saat ini.
Dalam konteks ini Rasulullah diingatkan bahwa Nuh as. tidak pernah lelah selama 950 tahun berda’wah baik siang, malam, secara terbuka maupun tertutup. Berkaitan dengan embargo ini juga, Allah mengingatkan bahwa Nuh juga pernah mengalami isolasi dari al-mala (penguasa) dan masyarakat umum.
Beliau diingatkan pula tentang bagaimana Ibrahim as. menanggulangi sikap apatis bangsa Mesopotamia atas seruan tauhidullah. Ibrahim berusaha membuka lahan baru bagi da’wahnya. Peta perjalanan hijrah Ibrahim begitu panjang, mulai dari Harran ( wilayah turki), Hebran al-Khalil (wilayah Palestina), Mesir dan Makkah.
Dari sisi lain, ibrah dari peta perjalanan hijrah Ibrahim adalah pengaturan sistem manajerial jama’ah. Ibrahim memiliki kolega sebanyak empat kader yang ditempatkan di zona tertentu. Ada Luth di kota Sodom Yordania, Ismail di Makkah, Ishaq d Hebran Palestina dan anak Ibrahim lainnya di Madyan.
Selanjutnya dalam ayat tersebut juga menyebutkan Musa as.. Musa as. dengan berbagai macam langkah solutif mampu menyelesaikan beragam permasalahan yang dihadapi. Sehingga hal ini menjadi cermin sekaligus motivasi bagi kaum muslimin yang saat itu sedang mengalami ujian terus-menerus.
Kisah Musa as. yang identik dengan kasus embargo adalah ketika Musa as. dan bani israil sampai di sebuah daerah gurun bernama Sinai. Tempat ini jelas-jelas tidak menyediakan sumber daya alam yang mampu memenuhi kebutuhan hidup Musa as. dan rombongannya. Tetapi Allah menurunkan bagi mereka al-manna dan al-salwa serta mata air bagi tiap-tiap kelompok bani Israil. Kisah pertemuan Musa as. dengan Khidir as.juga merupakan motivasi bagi Rasulullah dan kaum muslimin dalam memaknai embargo yang mereka rasakan. Apa yang kasat mata dan dirasakan belum tentu merupakan makna sebenarnya.
Figur berikutnya adalah Isa as., langkah konkret Isa as. dalam rangka iqamat al-din dapat terpetakan secara jelas. Isa as. menyadari bahwa dalam proses perjuangan pasti ada titik kritis yang membutuhkan langkah-langkah terencana. Dengan kesadaran seperti ini Isa as. kemudian membentuk dan membina secara khusus para kader pilihan.
Dengan kombinasi berbagai ibrah ini Rasulullah mampu memahami nilai yang terkandung dalam ujian boikot ekonomi-sosial saat itu. Ujian tersebut dimaknai secara positif  sebagai penggemblengan mental dan batu uji militansi terhadap risalah tauhidullah. Agar kelak di kemudian hari kaum beriman akan siap membangun peradaban berbasis tauhidullah dengan penuh makna.
Efek dari pembelajaran tersebut setidaknya terlihat pada langkah-langkah yang ditempuh Rasulullah. Mulai dari maklumat hijrah ke Ethiopia jilid dua hingga mencoba melakukan studi kelayakan ke Thaif untuk dijadikan tempat alternatif basis teritorial. Terlebih setelah peristiwa Isra Mi’raj, Rasulullah lebih intensif meretas da’wah ke berbagai kabilah Arab terutama Yatsrib. Rasulullah dengan berprasangka baik kepada Allah mampu memanaj kelemahan dan ancaman berubah menjadi kekuatan dan peluang.

‘Am al-Huzn ( Tahun Duka): Penguatan Psikologis
Beberapa waktu setelah pemboikotan berakhir, Abu Thalib mengalami sakit parah dan pada akhirnya menurut sebagian riwayat pada bulan Ramadhan tahun ke-10 kenabian Abu Thalib wafat. Masih dalam bulan yang sama, Khadijah pun wafat. Dua peristiwa duka ini benar-benar menyentuh emosi terdalam Rasulullah
Mengenai dua tokoh ini secara simbolik dapat dipahamai sebagai dua unsur pendukung utama yang mampu menjalankan roda revolusi. Khadijah dapat disimbolkan dengan bidang maliyah yang tidak dapat dipisahkan dengan sebuah gerakan revolusi (jihad). Sedangkan figur Abu Thalib dapat dimaknai sebagai nafsiyah yang mendukung secara totalitas terhadap perjuangan revolusi (jihad).
Dengan kewafatan dua figur ini boleh jadi untuk meneguhkan dan memurnikan Rasulullah akan jaminan Allah atas kecukupan dua pendukung revolusi, maliyah dan nafsiyah tak terbatas oleh keterbatasan figur dan usia manusia. Tetapi di bawah jaminan Allah dua bidang itu akan terus menerus dicurahkan selama revolusi terus bergerak maju. Semakin maju revolusi, semakin besar curahan rahmat Allah.


Menikahi Aisyah binti Abu Bakar dan Saudah binti Zam’ah
Meninggalnya Khadijah boleh jadi sebagai salah satu tragedi besar dalam kehidupan pribadi Rasulullah. Tetapi sebagai pemimpin revolusi, beliau sadar  betul bahwa suasana hati tidak boleh sedikitpun menelantarkan laju perjuangan. Untuk keberlangsungan kehidupan pribadi dan sekaligus perjuangan, maka Rasulullah atas perintah Allah kemudian menikah kembali. Wanita terpilih adalah Aisyah binti Abu Bakar dan tidak berselang lama beliau pun menikahi Saudah binti Zam’ah

Post a Comment

0 Comments