MULIA DENGAN AKHLAK NABI




إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا
“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.” (HR. Tirmidzi)

Kata akhlak berasal dari kata Khuluk yang dalam bahasa arab artinya watak, kelakuan, tabiat, perangai, budi pengerti, tingkah laku dan kebiasaan. Pengertian akhlak menurut Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulum al din mengatakan bahwa akhlak ialah; sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan bermacam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah tanp memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

Sebagai agama tentunya Islam tidak melewatkan pembahasan akhlak dalam ajarannya. Begitu banyak dalil dalam al-Qur’an maupun Sunnah yang memerintahkan kita untuk berakhlak mulia. Dan sebaliknya melarang umatnya dari akhlak yang buruk.

Akhlak Islam bisa diartikan sebagai suatu sistem nilai yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunah Rasul serta ijtihad ulama yang mengatur tindakan dan pola sikap manusia di muka bumi yang meliputi berbagai pola hubungan dengan Allah, sesama manusia dan dengan alam.

Berbicara mengenai akhlak dalam islam tidak akan pernah terlepas dari akhlak Nabi Muhammad. Ya, Muhammad adalah manusia yang sangat luar biasa dalam hal akhlak. Bahkan Allah memuji kemuliaan akhlak beliau seperti yang dijelaskan dalam firman-Nya:
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur” (Q.S. Al-Qolam : 4)

Oleh karena itu sebagai umat Islam yang selalu mengharapkan rahmat Allah sudah seharusnya kita menjadikan Nabi Muhammad sebagai teladan dalam kehidupan kita sehari-hari. Hal ini juga dijelaskan dalam firman-Nya:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Q.S. Al-Ahzab : 21)

Meneladani akhlak Nabi Muhammad akan sangat berpengaruh dalam kehidupan kita sehari-hari dan menjadikan kita pribadi yang berakhlak mulia. Serta menjadi pribadi yang paling dicintai oleh Nabi.

Bahkan dengan akhlak mulia, seseorang bisa menyamai kedudukan (derajat) orang yang rajin berpuasa dan rajin shalat. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ
“Sesungguhnya seorang mukmin bisa meraih derajat orang yang rajin berpuasa dan shalat dengan sebab akhlaknya yang luhur.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Oleh karena itu, Islam sangat menekankan umatnya untuk selalu berakhlak mulia. Dengan akhlaknya yang mulia akan tampak kesempurnaan islam, yaitu sebagai agama yang sempurna dan indah baik dari sisi aqidah, ibadah  maupun akhlak.

Semakin kuat keyakinannya serta semakin sempurna imannya kepada Allah maka semakin sempurnalah akhlaknya. Hal ini seperti yang telah nabi sampaikan
أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi)

Hal ini menjadikan akhlak sebagai sebuah indikator kesempurnaan iman seseorang.  Sehingga jika ada diantara kita yang semakin bertambah ilmu agama dan semakin besar pemahamannya terhadap Allah  namun tingkah lakunya tidak semakin baik maka berhati-hatilah, mungkin ada yang salah pada diri kita dalam belajar agama Allah dan mengamalkannya. Oleh karena itu sebagai seorang muslim yang beriman hendaklah kita menghiasi diri kita dengan akhlak yang mulia yang bisa kita teladani dari kehidupan Nabi Muhammad.

Salah satu sifat yang bisa kita teladani dari Nabi Muhammad adalah sifat penyayangnya. Sifat ini telah Allah sampaikan dalam Al-Qur’an
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيم
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin” (Q.S. At-Taubah 128)

Begitu juga dalam surat Al-Fath ayat 29 yang menerangkan bahwa Nabi Muhammad sangat keras terhadap orang kafir dan penyayang antar sesama muslim. Sifat penyayang ini bisa kita lihat dalam akhlak nabi dalam kehidupan kita sehari-harinya.

Banyak sekali contoh-contoh dari mulianya akhlak nabi yang bisa kita ikuti diantaranya yaitu:

1.      Membantu orang lain
Banyak sekali ayat Al-Qur’an dan sunah nabi yang memotivasi kita untuk selalu bisa mengaplikasikan karakter/akhlak mulia ini, seperti sabda Nabi dari Abu Hurairah :
وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ؛ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
“Allah akan membantu seorang hamba jika ia membantu saudaranya”
(HR. Muslim)

Membantu orang lain hakikatnya adalah membantu diri sendiri yaitu mengundang datangnya pertolongan Allah. Karena ketika kita membantu orang lain yang sedang kesusahan maka Allah akan membantu kita dalam mengatasi urusan kita di dunia dan di akhirat.

2.      Jujur dalam bertutur kata
Selalu jujur dalam bertutur kata merupakan karakter yang mulia yang sangat diperintahkan dalam Islam. Hal ini seperti yang Allah sampaikan dalam surat Al-Ahzab ayat 70, Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk bertakwa kepada-Nya dan memerintahkan untuk mengucapkan perkataan yang benar.

Kejujuran bertutur kata dalam kehidupan sehari-hari membuahkan kepercayaan masyarakat terhadap apa yang kita sampaikan, bukan hanya dalam perkara duniawi, namun juga dalam perkara agama

3.      Memuliakan tetangga dan tamu
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya” (HR.Bukhari dan Muslim)

4.      Berlapang dada dan pemaaf

5.      Membalas kejelekan dengan kebaikan.          
“Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah” (QS. Asy Syura : 40)

Post a Comment

0 Comments