Al-Qur’an, Pengertian, Isi dan Fungsi



1.     Pengertian Al-Qur’an
Al-Quran berasal dari kata : قَرأ - يقرأ - قرأنا-قراءة   berarti bacaan. Al-Quran adalah Kalamullah yang mulia dan terpelihara yang diturunkan oleh Allah lewat perantaan Malaikat Jibril kepada nabi Muhammad saw. dalam bahasa Arab, terdiri 30 juz, agar ia menjadi peringatan untuk  seluruh manusia.
Sebagaimana firman Allah di bawah ini: 
إِنَّهُ لَقُرْءَانٌ كَرِيمٌ(77)فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ(78)لاَ يَمَسُّهُ إِلاَّ الْمُطَهَّرُونَ(79) تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ  ا لْعَالَمِينَ(80)
“Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang amat mulia, pada kitab yang terpelihara tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam”. (56:75-80).
وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ قُرْءَانًا عَرَبِيًّا لِتُنْذِرَ أُمَّ ا لْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا…
“Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada Umul Qura dan penduduk-penduduk negeri sekelilingnya ... ”. (42:7).
Adapun secara syar’i, Al-Quran adalah hudallillas, bayyinat minal huda dan furqon. Sebagaimana firman Allah di bawah ini:
الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ  ا لْقُرْءَانُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
“...Dia menurunkan Al-Quran di dalam bulan Romadhan, sebagai petunjuk bagi manusia, penerangan dan furqon ...”. (2:185).
Yang dimaksud huda adalah gambaran huruf dan lafadz yang jelas dan tegas yang termaktub di dalam Al-Quran 30 juz, dan bayyinat adalah gambaran huruf alam yang kongrit, yaitu ayat-ayat kauniyah, sedangkan furqon adalah yang memisahkan dua hal yang berbeda sebagai kesimpulan dari makna-makna huda dan bayyinat.

2.     Isi Al-Qur’an
Pokok kandungan Al-Qur'an secara garis besar, meliputi akidah, ibadah dan muamalah, akhlak, hukum, kisah umat terdahulu, serta isyarat pengembangan pengetahuan dan teknologi. 
Penjelasan lebih jelas mengenai isi kandungan Al-Qur'an klik disini: Isi Kandungan Al-Qur'an

3.     Fungsi Al-Qur’an
Al-qur’an memiliki fungsi yang spesifik, yaitu : Huda linnas, Bayyinat minal huda dan Furqon.
Sebagaimana firman Allah SWT

“Bulan  Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil” (Q.S. Al-Baqarah:185)

A.    Al-Qur’an sebagai Huda linnas
Firman Allah SWT.

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus ....” (Q.S. Al-Isra:9)

Sebagai huda linnas, Al-Qur’an menunjuki manusia dua jalan kehidupan, yaitu jalan hak dan jalan batil, jalan lurus dan jalan sesat, jalan Allah dan jalan setan, jalan ketakwaan dan jalan kefajiran, jalan kesyukuran dan jalan kekafiran.
Jalan hak yang harus diikuti dan jalan batil yang harus dijauhi. Jalan ketakwaan yang akan mengantarkan kepada surga Allah dan jalan fujur  yang akan menghantarkannya ke naraka jahannam.

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan”. (Q.S. Al-Balad:10)

“Dialah yang menciptakan kamu, maka diantara kamu ada yang kafir dan diantara mu ada yang beriman”. (Q.S. At-Taghabun: 2)

“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir”. (Q.S. Al-Insan:3)

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (Q.S. Asy-Syams:7-10)

Sebagai hudalinnas, Al-qur’an membimbing orang-orang yang mengikutinya, yang menjadikannya seagai petunjuk kepada kehidupan yang berkualitas (al-aqwam).
Sebagai hudalinnas, Al-qur’an membimbing manusia yang mengikutinya keluar dari kesesatan kepada cahaya, dari kesengsaraan kepada keselamatan, dari kematian kepada kehidupan.

“Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.”  (Q.S. Al-Maidah:16)

Sebagai hudalinnas, Al-qur’an telah memperingatkan oranag-orang yang tidak mau mengikutinya, tidak menjadikannya sebagai petunjuk dan aturan hidupnya pasti akan mendapatkan kehidupan yang sengsara baik di dunia dan akhirat.
Firman Allah SWT
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (Q.S. Thaha:124)

B.     Al-Qur’an sebagai Bayyinat minal huda
Firman Allah SWT
“Dan Kami turunkan kepadamu Alkitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu”. (Q.S. An-Nahl:89)

Sebagai bayyinat minal huda, Al-Quran adalah penjelas segala sesuatu. Tidak ada, baik yang besar ataupun yang kecil kecuali telah dijelaskan secara gamblang.
“Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al kitab”. (Q.S. Al-An’am:38)

Sebagai bayyinat minal huda, Al-quran telah menjelaskan rincian secara detail seluruh masalah pasal demi pasal, antara lain:
1.      Menjelaskan dengan rinci tentang kehidupan
2.      Menjelaskan dengan rinci tentang hukum
3.      Menjelaskan dengan rinci tentang akhlak dan etika
4.      Menjelaskan dengan rinci tentang kisah-kisah kehidupan
5.      Menjelaskan dengan rinci tentang perumpamaan-perumpamaan
6.      Menjelaskan dengan rinci tentang asas-asas ilmu pengetahuan

C.    Al-Qur’an sebagai Furqon
Sebagai Al-Furqon, Al-Quran datang untuk memisahkan antara dua hal yang bertentangan itu, yaitu:
1.      Memisahkan hak dan batil
2.      Memisahkan dua bentuk masyarakat
3.      Memisahkan dua macam kepemimpinan
4.      Memisahkan dua macam hukum
5.      Memisahkan dua jalan hidup yang ditempuh manusia
6.      Memisahkan dua partai tempat bernaung manusia
7.      Memisahkan dua tempat tinggal manusia di dunia dan di Akhirat
8.      Memisahkan akhir perjalanan manusia

Disari dari buku Jalan Islam Transformasi Akidah dalam Kehidupan


Post a Comment

0 Comments