Media komunikasi massa baik media online atau
media cetak selalu berkembang mengikuti perkembangan zaman serta kemajuan
teknologi. Peran media dalam penyebaran suatu berita akan sangat mempengaruhi
pola pikir masyarakat juga dapat mempengaruhi kondisi sosial ekonomi di suatu
wilayah, oleh karena itu sangat penting untuk sebuah media dalam meyebarkan
fakta atau kebenaran dari sebuah berita.
Seiring dengan perkembangan teknologi serta
kemudahan dalam penggunaannya menjadikan media online menjadi media penyebaran
berita yang sangat berpengaruh pada masyarakat saat ini. Penyebaran berita
melalui media online tidak hanya dilakukan oleh media-media komunikasi yang
sudah memiliki nama, namun saat ini semua orang juga dapat berperan dalam penyebaran
suatu informasi. Informasi-informasi yang disebarkan oleh individual inilah
yang lebih sering tidak memiliki pertanggung jawaban atas kebenaran informasi
tersebut. Melihat masyarakat yang mudah terpengaruh oleh suatu berita tanpa
mencari tahu kebenaran akan berita tersebut dapat menjadi suatu permasalahan.
Ketika menerima atau mendengar berita dan
menyebarkannya, terkadang kita menganggapnya sebagai hal yang kecil atau biasa,
padahal itu di sisi Allah SWT adalah perkara besar apalagi kalau berita itu
adalah berita bohong, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat An-Nur ayat 15:
إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ
وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُم مَّا لَيْسَ لَكُم بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ
هَيِّنًا وَهُوَ عِندَ اللَّهِ عَظِيمٌ
(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari
mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui
sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada
sisi Allah adalah besar. (Q.S An-Nur: 15)
Adapun bagi mereka yang menyebarkan berita tanpa menyadari bahwa berita
itu bohong, maka Allah SWT telah memperingatkan kita
وَلَا تَقْفُ مَا
لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ
أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
”Dan janganlah
kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta
pertanggunganjawabannya”. (TQS.
Al-Isra : 36).
Saat ini banyak sekali berita-berita
yang beredar di masyarakat yang tidak memiliki sumber yang valid. Hal ini
sangat berbahaya jika tidak diikuti dengan sifat tabayyun. Tabayyun haruslah
menjadi suatu karakter yang melekat dalam setiap diri seorang muslim. Jangan
sampai seorang muslim menjadi penyebab pertikaian yang terjadi masyarakat, karena hal ini sangat bertolak belakang
dengan karakter muslim yang cinta damai.
Tabayyun termasuk kata serapan yang berasal dari bahasa arab. Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia arti kata tabayyun diartikan dengan pemahaman
atau penjelasan. hal ini bisa bermakna mencari kejelasan
tentang sesuatu hingga jelas dan benar keadaannya.
Tabayyun merupakan tindakan mulia dan merupakan salah satu prinsip hidup
yang penting bagi seorang muslim. Hal ini sangat penting dalam menjaga
kemurnian agama Islam serta menjaga keharmonisan dan sikap toleransi dalam
bergaul di masyarakat. Dalam kehidupan
bermasyarakat seseorang akan terhindar dari permusuhan antar sesama muslim atau
yang lain karena bisa bertabayyun dengan sempurna.
Allah swt
memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar benar-benar meneliti
berita-berita yang beredar yang dibawa oleh orang fasik dalam rangka
mewaspadainya. Jangan sampai kita langsung menghakimi seseorang tanpa bertanya
tentang kebenaran yang sesungguhnya, hal ini sangat mengkhawatirkan terutama
ketika kita bermasyarakat. Seperti firman Allah swt sebagai berikut
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا
بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ (٦)
Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang
yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya
agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan) yang
akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu. (Q.S. Al-Hujurat: 6)
Asbabun Nuzul dari ayat di atas sendiri adalah ketika
Rasulullah saw mengajak seseorang yang bernama Al Harits untuk masuk Islam. Setelah
di ajak oleh Baginda Rasul ia pun menyatakan diri masuk Islam dan pulang kepada
kaumnya untuk mengajak masuk agama Islam. Pada saat itu juga Rasulullah saw
mengajak untuk menunaikan zakat yang disanggupi oleh Al Harits.
Ketika waktu telah tiba, Rasulullah saw mengutus seseorang
bernama Al Walid bin Uqbah untuk mengambil zakat yang telah di janjikan. Namun
ketika Walid bin ‘Uqbah berangkat dan sudah menempuh beberapa jarak tiba-tiba
karena merasa takut ia kembali lagi lalu menemui Rasulullah Saw seraya berkata
:”Ya Rasulullah sesungguhnya Harits bin Abi Dhirar Al-Khuza’i menolak
memberikan zakat kepadaku, bahkan ia bermaksud membunuhku.”
Mendengar
laporan dari Walid bin ‘Uqbah, Rasulullah pun marah dan mengirimkan utusan
kepada Harits bin Abi Dhirar Al-Khuza’i untuk memeranginya. Ketika utusan
beliau meninggalkan kota Madinah, Harits bin Abi Dhirar Al-Khuza’i bertemu mereka
dan menanyakan alasan kenapa mereka diutus. Para utusan Rasulullah ini pun
menjelaskan bahwa Rasulullah telah mengutus Walid bin ‘Uqbah kepada Harits bin
Abi Dhirar Al-Khuza’i dan mengaku bahwa Harits bin Abi Dhirar Al-Khuza’i
menolak memberikan zakat dan bahkan akan membunuhnya. Hal ini langsung dibantah
oleh Harits bin Abi Dhirar Al-Khuza’i karena sebenarnya tidak pernah ada utusan
Rasul yang datang kepadanya.
Harits
bin Abi Dhirar Al-Khuza’i menghadap Rasulullah, dan Rasul bertanya: “Apakah engkau
menolak menyerahkan zakat dan bermaksud membunuh utusanku?” Ia menjawab:
“Tidak. Demi Rabb yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku sama sekali tidak
melihatnya dan tidak pula ia mendatangiku. Dan aku tidak datang menemuimu
melainkan ketika utusan Rasulullah tertahan (tidak kunjung datang) dan aku
takut akan muncul kemarahan dari Allah dan Rasul-Nya.
Dan Kemudian turunlah QS Al Hujurat ayat 6, dimana sebagai
sebuah peringatan bagi umat muslim agar selalu bertabayyun dalam
menghadapi informasi yang terdengar oleh telinga kita. Dan tentunya meminta
penjelasan dari kedua belah pihak. Agar tidak menimbulkan perpecahan bahkan
sampai pertumpahan darah.
Selain meminta penjelasan dari kedua belah pihak, kita juga
harus bernalar. Bernalar adalah proses berpikir yang sistematis
untuk memperoleh kesimpulan atau pengetahuan yang dapat bersifat ilmiah dan
tidak ilmiah. Lebih jauh ditegaskan, bernalar akan membantu manusia berpikir
lurus, efisien, tepat, dan teratur untuk mendapatkan kebenaran dan
menghindarkan kekeliruan.
Dan,
bernalar mengarah pada berpikir benar, lepas dari berbagai prasangka emosi dan
keyakinan seseorang, karena penalaran mendidik manusia bersikap objektif,
tegas, dan berani. Suatu sikap yang dibutuhkan dalam segala kondisi.
Dengan demikian, menghidupkan nalar, di antaranya merupakan
langkah lanjutan dari tradisi tabayyun sebagaimana langkah
pertama dalam bahasan ini yang kemudian segala macam berita yang masuk kita
validasi secara nalar dan dalam konteks ajaran Islam tentu harus merujuk pada
Al-Qur’an dan Sunnah serta ulama.
Langkah sederhananya, setiap informasi atau berita yang masuk
ditimbang baik-baik, mulai dari asal-usul, kebenaran, manfaat dan maslahat.
Jika memang sudah dapat diyakini info itu benar, penting dan bermanfaat,
menyebarluaskannya tentu suatu kebaikan.
Imam Muslim meriwayatkan
dalam kitab Shahih-nya,hadits dari sahabat
Uqbah bin ‘Amr bin Tsa’labah radhiallahu’anhu,
bahwa Rasulullah saw bersabda :
“Barangsiapa
yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala
orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim).
Hadits ini mencakup orang yang
menunjukkan kebaikan kepada orang lain dengan perbuatannya, meskipun tidak
dengan lisannya. Seperti orang yang menyebarkan buku-buku yang bermanfaat,
berakhlak mulia dan berpegang teguh dengan syariat Islam agar manusia juga bisa
meneladaninya
Tetapi jika tidak, sebaiknya tidak melakukan apapun, apalagi
men-share ke
orang lain yang bisa jadi menimbulkan kemudharatan yang tidak disangka.
Imam
Muslim rahimahullah telah meriwayatkan dari haditsnya Abu Hurairah
radhiyallaahu ‘anhu bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan
hari akhir, hendaklah ia berbicara yang baik atau (jika tidak) maka hendaknya
ia diam.” (HR. Muslim).

0 Comments