Setiap mukmin
tentu menginginkan amal ibadah yang selama ini mereka lakukan bisa diterima
Allah SWT dan mendapatkan pahala dari-Nya. Akan tetapi, terkadang tanpa
disadari amalan-amalan tersebut tidak mendapatkan balasan pahala apapun dan
malah justru mendapatkan keburukan disisi Allah SWT.
Disadari atau
tidak hal ini bisa terjadi mungkin dikarenakan kita melakukan
perbuatan-perbuatan yang bisa merusak bahkan menghapus amal ibadah yang telah
kita lakukan. Untuk itu sebagai seorang muslim kita dituntun untuk senantiasa
berhati-hati dalam bertindak. Seorang hamba harus menjauhi segala perkara yang
akan merusak amalannya. Jika tidak, maka amalannya akan sia-sia, dan dia tidak
akan mendapatkan manfaatnya.
Ada beberapa
perbuatan yang bisa merusak bahkan menghapus amal ibadah yang telah kita
laksanakan, seperti hal berikut:
1.
Berbuat
syirik
Syirik yaitu suatu perbuatan yang menyekutukan Allah atau menyamakan
Allah dengan selainnya dalam hal yang berhubungan dengan kekhususan Allah,
seperti menyembah selain Allah, yaitu menyembah patung-patung, batu, manusia,
matahari, bulan, pohon dan berdoa kepada selain Allah, dan sebagainya
Menyekutukan Allah atau syirik baik itu syirik besar ataupun syirik
kecil adalah suatu kezoliman yang besar dan perbuatan tersebut merupakan
penghinaan terhadap Allah SWT. Mengapa? Karena perbuatan tersebut telah
menyamakan Allah SWT dengan makhluk ciptaan-Nya. Allah SWT akan memberikan
balasan bagi mereka yang berbuat syirik yaitu dengan tidak menerima amal ibadah
yang mereka perbuat.
Hal itu sebagaimana Firman Allah SWT berikut :
وَلَوْ أَشْرَكُوا
لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Artinya “Seandainya mereka menyekutukan Allah, niscaya lenyaplah
dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am ayat 88)
Bahkan Allah SWT tidak akan mengampuni hamba-Nya yang melakukan
syirik dan apalagi jika mati dalam keadaan belum bertaubat dari perbuatan
syirik tersebut
إِنَّ اللهَ
لاَيَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ وَمَن
يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia
mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang
dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah
berbuat dosa yang besar. (An Nisaa:48)
2.
Melakukan
amalan haram ketika sendirian
Dosa dan kemaksiatan, dua perkara yang paling banyak menggugurkan
kebaikann dan memberatkan timbangan keburukan. Melakukan satu perbuatan dosa,
seperti zina, atau melanggar larangan Allah Azza wa Jalla ketika sendirian, sudah
cukup untuk menggugurkan kebaikan-kebaikan walaupun sebesar gunung.
Sahabat Tsauban radhiyallahu ‘anhu menceritakan dari Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa bersabda:
لَأَعْلَمَنَّ
أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ
جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا
قَالَ ثَوْبَانُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لَا
نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَا نَعْلَمُ قَالَ أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ
وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنْ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ
وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا
“Aku benar-benar mengetahui
rombongan-rombongan orang dari umatku, mereka akan datang pada hari kiamat
dengan membawa kebaikan-kebaikan sebesar gunung Tihamah yang berwarna putih,
akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjadikannya sebagai debu yang
berhamburan”. Tsauban radhiyallahu ‘anhu
berkata, “Wahai Rasulullah! Terangkan sifat mereka kepada kami!
Terangkan keadaan mereka kepada kami, agar kami tidak termasuk golongan mereka
padahal kami tidak mengetahui!” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya mereka itu adalah saudara-saudara kamu, dan dari
kulit kamu, mereka mengisi sebagian malam sebagaimana kamu mengisi, namun
mereka adalah rombongan-rombongan orang yang jika menyendiri, mereka
melanggar perkara-perkara yang
diharamkan oleh Allah”. (HR. Ibnu Majah dishahihkan oleh syaikh al-Albani;
syaikh Salim al-Hilali dan lainnya).
3.
Mengganggu
Hak Orang Lain
Mengganggu hak orang lain dan menyakiti mereka dengan perbuatan
ghibah, celaan, makian, namimah, atau mengambil hak mereka dengan cara yang
tidak dibenarkan agama, semua perbuatan itu akan menyebabkan kebaikan-kebaikan
seseorang pada hari kiamat akan hilang. Kebaikan-kebaikan itu akan diberikan
kepada orang-orang yang dia ganggu atau dia lanngar hak-hak mereka. Sehingga
dia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan bangkrut dari kebaikan-kebaikan,
padahal sebelumnya dia sudah memiliki pahala yang begitu banyak. Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan keadaan orang yang bangkrut pada hari
kiamat di dalam haditsnya berikut ini:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
أَتَدْرُوْنَ
مَا الْمُفْلِسُ؟ قَالُوْا: الْمُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ
مَتَاعَ. فَقَالَ: إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ
الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا
وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا،
فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ. فَإِنْ فَنِيَتْ
حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ، أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ
فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ
“Tahukah kamu siapakah orang bangkrut itu?” Para Sahabat
radhiyallahu ‘anhum menjawab, “Orang bangkrut menurut kami adalah orang yang
tidak punya uang dan barang.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya orang bangkrut di kalangan umatku yaitu orang datang pada hari
kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Tetapi dia mencaci orang
ini, menuduh orang ini, makan harta orang ini, menumpahkan darah orang ini, dan
memukul orang ini. Maka orang ini diberi sebagian kebaikan-kebaikannya, dan
orang ini diberi sebagian kebaikan-kebaikannya. Jika kebaikan-kebaikannya telah
habis sebelum diselesaikan kewajibannya, kesalahan-kesalahan mereka diambil
lalu ditimpakan padanya, kemudian dia dilemparkan di dalam neraka.” (HR.
Muslim)
4.
Mengungkit-ungkit
amalan (sedekah) yang telah dilakukan serta menyakiti perasaan si penerima
ketika sedang bersedekah
Mengungkit-ngungkit sedekah dan pemberian yang diserahkan pada
sipenerima misalnya dengan menyatakan bahwa “aku telah memberimu sedekah, maka
berbuat baiklah padaku”, adalah suatu dosa dan bisa menghapus pahala amalan
sedekah tersebut. Ini juga sama halnya dengan memberikan sedekah tapi dengan
cara yang membuat sipenerima tersakiti dan terhina, seperti bersedekah dengan
penuh sombong, sambil mengejek, ataupun menceritakan perihal sedekah ini pada
orang yang membuat sipenerima malu dan tersakiti. Sebagaimana firman Allah
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا
تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالأذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ
النَّاسِ وَلا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ
صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لا
يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ
الْكَافِرِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan
(pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnyadan menyakiti (perasaan si
penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia
dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang
seperti itu bagaikan batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu
ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak
menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi
petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah ayat 264)
5.
Keburukan
Yang Dosanya Terus Berjalan
Sesungguhnya ada keburukan-keburukan yang dosanya terus berjalan
memakan kebaikan-kebaikan seseorang walaupun pelakunya telah meninggal dunia.
Di antara keburukan-keburukan yang dosanya terus berjalan adalah menyesatkan
kaum muslimin dan merusak mereka, seperti fatwa dengan tanpa ilmu, menjauhkan
seorang muslim dari dari ketaatan, menyebarkan kaset-kaset yang membolehkan
hal-hal yang haram atau video-video porno kepada orang lain, membeli parabola
atau membuat jaringan internet untuk melihat video porno, dan lainnya. Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً
سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ،
مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْء
Barangsiapa membuat perbuatan yang buruk di dalam agama Islam
(seperti kemaksiatan, bid’ah, dan lainnya, kemudian diikuti oleh orang-orang
lain-pen), dia menanggung dosanya dan
dosa orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa
mereka sedikitpun (HR. Muslim dari Jarir bin Abdullah).
Demikianlah
beberapa perkara yang bisa merusak bahkan menghapus amal ibadah kita. Oleh
karena itu kewajiban kita untuk bertaqwa kepada Allah dimana saja berada, baik
ketika sendirian atau ketika bersama banyak orang kita tetap istiqomah serta
senantiasa mengiri keburukan kita dengan perbuatan-perbuatan baik .
Begitulah yang
diwasiatkan oleh Nabi di dalam haditsnya:
اتَّقِ الله حَيثُمَا كُنْتَ ، وأَتْبِعِ
السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمحُهَا ، وخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ
Dari Abu Dzarr
radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda kepadaku, “Bertaqwalah kepada Allah Azza wa Jalla dimana saja engkau
berada; Iringilah keburukan dengan perbuatan baik! Niscaya kebaikan itu akan
menghapusnya; Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlaq yang baik”. (HR.
Ahmad)

0 Comments